Ketika Tidur Beralaskan Bumi dan Beratapkan Langit

ok1

Berada diatas ketinggian akan membuat kita jauh lebih bersyukur. Melihat bentangan alam, menjadikan kita semakin yakin dengan kekuasaan Allah SWT.

“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Ar-Ra`d:3)

Pepohonan yang hijau, udara yang sejuk, kicauan burung-burung, kemerlap lampu kota, menjadi bayaran yang tak terhingga nilainya ketika kami berada dipuncak Bukit Biru Kota Tenggarong.
Hari itu (red: sabtu) saya dan rombongan LDK Fisip Unmul mengadakan perjalanan ke Kota Raja tersebut. Berawal dari ingin menumbuhkan kembali rasa ukhuwah dan rasa penasaran terhadap tempat yang fenomenal itu, kami memutuskan untuk melakukan agenda refreshing kader.

Perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit dari Kota Samarinda itu kami lalui dengan menggunakan sepeda motor. Dilanjutkan dengan menyebrang menggunakan kapal Fery, perjalanan kami terasa semakin berkesan.

Setibanya dilokasi, melihat matahari yang semakin tenggelam, kami bergegas untuk segera menaiki Bukit Biru tersebut menuju puncaknya. Banyak diantara kami yang baru pertama kali menaiki atau mendaki gunung. Maka tidak heran ada yang kurang persiapan dan “terengos-engos” ditengah jalan.

Dibutuhkan komitmen yang kuat ketika ingin mencapai puncak tertinggi. Filosofinya sama seperti kehidupan ini. Terkadang kita harus jatuh dan bangkit lagi untuk meraih cita-cita kita. Usaha keras, optimis dan tidak pernah menyerah menjadi hal utama yang harus dimiliki.

Banyak yang mempunyai semangat serta niat yang tinggi, namun tidak sampai dipuncaknya. Syukurnya, 16 orang diantara kami yang berangkat sampai dipuncaknya dengan selamat.

Malam harinya, beralaskan bumi dan beratapkan langit serta diterangi cahaya bintang dan bulan kami menikmati pemandangan yang tiada duanya. Ditemani cemilan ringan, kami saling berbagi pengalaman dan sharing harapan untuk LDK Fisip kedepan.

Ada hal yang membuat saya merinding dan tak bisa menahan air mata keluar. Saat lantunan merdu suara Adzan dikumandangan ketika waktu Subuh tiba. Yang tadinya riuh dengan suara musik, seketika menjadi hening dan menentramkan  ketika satu diantara kami mengumandangkan Adzan.

Mensyukuri nikmat Allah dan menyeru kepada kebaikan walaupun dengan kondisi yang tidak kondusif, akan tetap bisa kita lakukan. Selama niat terjaga dan komitmen kita untuk terus meng-Esa kan Allah SWT.

Terimakasih kepada saudara-saudara saya di LDK Fisip yang banyak memberikan pelajaran hari itu. Mulai dari menahan kesabaran, menumbuhkan jiwa peduli, saling memotivasi, bersikap optimis dan melawan rasa ketakutan. Serta masih banyak hikmah dari perjalanan ukhuwah ini. Semoga kita terus bisa berjalan beriringan hingga Jannah mempertemukan kita semua :’)

1429424021909

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s