Kisah Kita Ketika Masih Kecil

image

Ketika kita masih kecil, orangtua berusaha memberikan yang terbaik untuk kita: mulai dari makanan, pakaian, pendidikan, sampai ke mainan. Mereka selalu menomorsatukan kita. Sekarang, ketika kita dewasa, apakah kita memberikan yang terbaik untuk mereka? Apakah kita menomorsatukan mereka? Yang ada,  kita malah menomorduakan bahkan menomortigakan mereka. Biasanya rumah, makanan dan pakaian kita jauh lebih baik daripada orangtua. Kita sering masuk restora ini-itu, sementara orangtua jarang-jarang. Kita sering berlibur kemana-mana sementara orangtua jarang-jarang.

Ketika kita masih kecil, mungkin kita berempat bersaudara, dinafkahi oleh orangtua. Lihatlah, walaupun orangtua hanya berdua, walaupun keuangab tengan sulit, walaupun kita selali menuntut, namun mereka tidak pernah mengeluh dan beralasan. Lantas, kenapa begitu dewasa, kita berempat bersaudara sering mengeluh dan beralasan dalam menafkahi mereka, yang hanya berdua? Ketahuilah, menafkahi orangtua itu hukum nyawajib, bukan sunnah. Selama ini kita menyikapi seolah-olah sunnah. Kalau ingat, kalau mau, kalai cukup uang, kalau ini-itu, barulah kita menafkahi orangtua.

Ketika kita masih kecil, misalnya sakit, tahukah kita ternyata orangtua berdoa, “Ya Allah, sembuhkan anakku. Pindahkan saja sakitnya padaku.” kini, ketika sudah dewasa dan misalkan orangtua sakit, seperti apa doa dan perhatian kita kepada mereka? Pastilah tidak setara dengan doa dan perhatian mereka dulu. Bahkan sekarag pun, ketika kita sudah dewasa, sudah mandiri, dan sudah sukses rupa-rupanya hampir semua doa yang orangtua ucapkan adalah untuk kita, anak-anaknya! Hanua sedikit saja doa yang mereka ucapkan untuk diri mereka sendiri.

Yang begitu ironis, biasanya beginilah cara kita  ‘berbakti’ :
– Begitu kita hidup susah, maka dilantiklah orangtua menjadi pembantu di ruma kita.
– Begitu kita sibuk bekerja, maka dilantiklag orangtua menjadi babysitter di rumah kita.
– Begitu kita sibuk berpergian, maka dilantiklah orangtua menjadi satpam di rumah kita. Memang kita tidak pernah menyebutnya begitu, tapi begitulah pekerjaan mereka sehari-hari. Memberesi pekerjaan-pekerjaan kita dirumah, mengurusi anak-anak kita.
– Manakala orangtua meninggal barulah kita sadar. Kita pun berubah membaik. Mestinya dibalik. Kita berubah membaik dulu, sebelum orangtua meninggal.

Nasihat ini murni saya kutip dari buku “Moslem Millionaire – Ippho Santosa”. Sangat inspiratif dan ‘ngenes’ dihati. Yuk mumpung bulan ramadhan, jadikan momentum perbaikan diri dengan berbakti kepada orangtua.🙂

::Semangat Berbagi dan Menginspirasi::

@Robby Adhtya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s