Masihkah Ada Bangku Sekolah Untuk Ku ?

ColorTouch-1393429434573

Mengenyam pendidikan 12 tahun adalah hak setiap anak bangsa di negeri ini. Mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Tapi, tak demikian halnya dengan Alif dan Arvin. Sehari-hari mereka tidak lagi mendapatkan ilmu dari bangku sekolah. Saat terbit fajar, banyak pelajar yang keluar rumah untuk menuju sekolahnya masing-masing. Namun beda halnya dengan Alif dan Arvin, mereka berdua setiap paginya bergegas menuju lampu merah. Dengan menggunakan sepeda kecil miliknya, mereka berdua pergi menyusuri jalan raya. Sesampainya di lampu merah, Alif dan Arvin menyiapkan setumpuk koran untuk kemudian dijualnya. Sambil membawa setumpuk koran tadi, mereka menawarkan kepada para pengendara yang berhenti di lampu merah itu. Terlihat tidak ada rasa malu diwajahnya, raut gembira dan senang yang malah tergambar dari senyum mereka.

Bukanlah pekerjaan yang menyenangkan tentunya hal ini. Menghadapi para kendara motor yang terkadang melaju kencang juga menjadi resiko mereka berdua. Pernah terjadi dengan teman Alif yang saat itu sedang berjualan koran di lampu merah, tiba-tiba tanpa disengaja ia ditabrak oleh pengendara motor. Sampai akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit. “Ibuku pernah berpesan, jangan berlari-lari saat berjualan koran di lampu merah,” kata Alif. Sampai saat ini ia terus mengingat pesan dari orangtuanya itu.

Saat matahari berada setinggi kepala, mereka kembali mengayuh sepeda yang sudah mulai berkarat itu. Rumah adalah tujuan mereka. Alif dan Arvin yang hobi bermain sepak bola ini tinggal di jalan Biawan Gg. 2 Samarinda. Selesai berjualan koran sampai matahari terbenam mereka habiskan waktu untuk bermain. Keesokan harinya pun mereka melakukan hal yang sama, berjualan koran, bermain dan kembali tidur.

Alif dan Arvin yang dulunya pernah merasakan mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Dasar Negeri 022 Samarinda itu mengaku senang saat bisa sekolah dulu. Alif misalnya, ia pernah sekolah hingga kelas 6 SD. Namun impiannya untuk melanjutkan ke tingkat SMP harus kandas. Faktor ekonomi lah yang menjadi alasan utama Alif tidak melanjutkan sekolah. Sementara Arvin harus berhenti sekolah saat ia duduk di kelas 4 SD. Sejak saat itu ia memutuskan untuk mencari pekerjaan.

Dalam sehari dari usaha mereka berjualan Koran tidak banyak rupiah yang bisa dikumpulkan. Kurang lebih Rp. 10.000,00 uang yang mereka terima. Uang itu kemudian setengahnya digunakan untuk berbelanja, dan setengahnya lagi untuk diberikan kepada orangtua. Saat mereka ditanya, maukah melanjutkan sekolah jika ada progam sekolah gratis ? “Tentu mau,” jawab mereka berdua.

Alif dan Arvin hanya gambaran kecil dari potret pendidikan di Indonesia. Masih banyak anak-anak seusia mereka yang perlu diperhatikan dan diberi pendidikan yang semestinya. Bukan malah bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan ekonomi keluarga.

Lembaga PBB yang menangani bidang pendidikan dan kebudayaan mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, ada 160.000 anak Indonesia yang putus sekolah. Dan, angka itu meningkat tajam, karena Unesco menemukan, ada 260.000 anak Indonesia yang putus sekolah pada tahun 2011. Pengamat Pendidikan, Muhammad Zuhdan, sebagaimana dilansir suaramerdeka.com,Tiap Menit, Empat Siswa Putus Sekolah, menyebutkan bahwa tercatat ada 1,3 juta anak usia 7-15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Dengan kata lain, setiap menit ada empat anak yang putus sekolah. Sungguh sangat mengiris hati melihat wajah pendidikan di Indonesia saat ini😦

ColorTouch-1393429272117Foto : Arvin (baju biru) dan Alif (baju oranye) saat berjualan di lampu merah simpang empat Jl. Basuki Rahmat Samarinda.

ColorTouch-1393429175700Foto Bersama : Narsisme Journalist judulnya :p

Ingin mengobrol dengan saya ? Sapa ane di twitter @RobbyAdhtya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s